Senin, 26 September 2011

Kisah-kisah Karamah Wali Allah

Buku ini judul aslinya adalah Jami' Karamat al-Aulia'. Buku ini diterbitkan beberapa kali di Indonesia dalam beberapa judul, antara lain Kisah-kisah Karamah Wali Allah dan Mukjizat Para Wali Allah. Pengarangnya adalah Yusuf bin Ismail an-Nabhani.
Membaca buku ini insya Allah kesedihan dan ketakutan diri kita akan sirna. Jangan pernah bersedih lagi, betapa para wali tidak pernah bersedih dan takut menghadapi apapun yang ada. Allah tidak akan memberikan ujian di luar batas kemampuan hamba-Nya. Karena janji Allah tidak pernah ingkar.

Rasulullah Saw. dalam sabdanya, Sesungguhnya ada golongan hamba Allah yang bukan termasuk nabi dan bukan syuhada (syahid), yang pada hari kiamat nanti mereka menempati tempat para nabi dan syuhada. Para sahabat lalu bertanya, Ya, Rasulullah, beritahu kami siapa mereka itu? Apa pekerjaan mereka ? Semoga kami bisa mencintai mereka. Nabi menjawab, Mereka adalah satu kaum yang saling mencintai karena Allah, bukan karena hubungan satu rahim, juga bukan karena harta yang mereka miliki. Demi Allah, wajah mereka bercahaya. Mereka berada di atas mimbar cahaya, mereka tidak pernah takut ketika orang-orang ketakutan, mereka juga tidak bersedih ketika orang-orang merasa sedih (HR. Umar bin Khattab).

Buku ini merupakan khazanah yang luar biasa tentang fenomena karamah wali-wali Allah yang dihimpun dari banyak sumber klasik karya para wali dan ulama yang diakui kapabilitasnya di seluruh penjuru dunia. Di dalamnya, karamah dibahas secara rinci dan jelas, didukung argumen kuat dari Al-Qur’an, Sunnah, dan peristiwa-peristiwa nyata yang diriwayatkan secara sahih. Dalam buku ini juga menuturkan tentang konsep dan landasan karamah, mukjizat Nabi Muhammad Saw. sebagai wali Allah yang paling agung, dan karamah sahabat-sahabatnya. Kisah-kisah ajaib tentang mereka semoga dapat menjadi bahan renungan kita untuk menambah keimanan kepada Allah dan meneladani kepatuhan mereka kepada-Nya, kearifan, kebersahajaan, dan kerendahan hati mereka yang telah dianugerahi kemuliaan.

Penetapan Karamah Wali

   Rupa-rupa
Mukjizat nabi membuktikan kejujuran dan kebenaran agama yang diembannya. Allah berfirman:
"Ingatlah! Sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak merasa takut dan sedih. Mereka adalah orang-orang yang beriman dan selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira dalam kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan besar."(QS Yunus[10]:62-64)
Allah juga berfirman,
"Goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menjatuhkan buah kurma yang masak untukmu, kemudian makan dan minumlah "(QS Maryam [19]: 25-26). "Setiap Zakaria masuk ke mihrab untuk menemui Maryam, ia melihat makanan di sisinya. Zakaria bertanya, "Hai Maryam, dari mana kau memperoleh makanan ini?" Maryam menjawab, "Makanan itu dari sisi Allah." Sesungguhnya Allah akan memberi rezeki kepada siapa saja yang Dia kehendaki tanpa perhitungan "(QS Ali 'Imran [3]: 37).
Firman Allah yang lain,
" Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusan kamu. Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit miring ke arah kanan gua, dan ketika terbenam, miring ke arah kiri gua" (QS Al-Kahfi [18]: 16-17).
Banyak sekali penjelasan yang menafsirkan ayat ini, berkaitan dengan penetapan karamah para wali. Al-Fakhr al-Razi dalam Al-Tafsir al-Akbar mengemukakan bahwa para sufi menjadikan ayat ini sebagai hujah atas kebenaran adanya karamah. Hal itu merupakan istidlal (pengambilan dalil) secara zahir, dan kami akan menjelaskan masalah ini dengan jalan meneliti secara mendalam sebelum menceburkan diri dalam masalah dalil tentang kemungkinan karamah.

Definisi Wali

Siapakah wali itu? Ada dua penjelasan tentang makna wali.
Pertama, kata al-wali merupakan bentuk superlatif dari subyek (fa'il), seperti kata al-'alim bermakna yang sangat alim dan kata al-qadir bermakna yang sangat berkuasa. Maka kata al-wali bermakna orang yang sangat menjaga ketaatan kepada Allah tanpa tercederai oleh kemaksiatan atau memberi kesempatan pada dirinya untuk berbuat maksiat.
Kedua, kata al-wali merupakan subjek bermakna objek, seperti kata al-qatil bermakna yang terbunuh dan al-jarih bermakna yang terluka. Maka kata al-wali bermakna orang yang dijaga dan dilindungi oleh Allah Swt, dijaga terus-menerus dari berbagai macam maksiat dan selamanya mendapat pertolongan Allah untuk selalu berbuat taat.
Perlu diketahui bahwa kata al-wali diambil dari firman Allah Swt,:
  • "Allah adalah pelindung (wali) orang-orang yang beriman" (QS Al-Baqarah [2]: 257).
  • "Dan dia melindungi (yatawalla) orang-orang yang saleh "(QS Al-A'raf [7]: 196).
  • "Engkaulah Penolong kami (maulana), maka tolonglah kami dari kaum yang kafir "(QS Al-Baqarah [2]: 286).
  • "Yang demikian itu karena sesungguhnya Allah adalah pelindung (maula) orang-orang beriman dan karena sesungguhnya orang-orang kafir itu tidak mempunyai pelindung" (QS Muhammad [47]: 11).
  • "Dan firman-Nya, Sesungguhnya penolong kamu (waliyyukum) adalah Allah dan Rasul-Nya" (QS Al-Maidah [5]: 55)
Menurut saya, ditinjau dari segi etimologis, al-wali berarti yang dekat. Ketika seorang hamba dekat kepada Allah karena ketaatan dan keikhlasannya, maka Allah akan senantiasa dekat kepadanya, dengan limpahan rahmat, keutamaan, dan kebaikan, hingga mencapai jenjang al-wilayah (kewalian).

Kejadian Luar Biasa

Kejadian-kejadian di luar kebiasaan manusia ada tiga macam:
Kejadian Luar Biasa Pertama, kejadian luar biasa yang muncul diiringi dengan pengakuan. Pengakuan dalam hal ini ada empat macam: pengakuan ketuhanan, pengakuan kenabian, pengakuan kewalian, pengakuan sihir dan menaati setan.
a. Pengakuan ketuhanan (iddi'aul ilahiyyah)
Mereka ini kemungkinan dapat memunculkan kejadian luar biasa di tangannya sendiri tanpa ada perlawanan, seperti cerita tentang Fir'aun yang mengaku sebagai Tuhan dan memunculkan kejadian luar biasa dengan tangannya. Demikian pula tentang kebenaran Dajjal. Menurut mazhab kami, hal itu mungkin saja terjadi karena bentuk dan timbulnya kejadian luar biasa itu justru semakin membuktikan kebohongan dan kepalsuan dirinya.
b. Pengakuan kenabian {iddi'aun nubuwwah)
Orang yang mengaku nabi ada dua macam; orang yang jujur dan pendusta. Kalau ia seorang yang jujur, sudah semestinya ia mampu memunculkan kejadian luar biasa dengan tangannya, hal ini bisa diterima karena untuk membuktikan kebenaran kenabiannya. Kalau ia seorang pendusta, maka ia tidak akan mungkin menunjukkan kejadian luar biasa. Artinya, kalaupun ia mampu menampakkannya, maka ia harus ditentang.
c. Pengakuan kewalian (iddi'aul wilayah)
Orang-orang yang mengakui adanya karamah wali berbeda pendapat dalam hal ini. Apakah boleh seseorang mengaku memiliki karamah? sehingga muncul persetujuan terhadap pengakuan kewaliannya atau tidak.
d. Pengakuan sihir dan menaati setan (iddiaus sihrwatha 'atusy syaithan) Menurut kami, orang-orang yang mengaku sebagai pelaku
sihir dan pengikut setan mungkin bisa menampakkan hal-hal luar biasa dengan tangannya, sedangkan menurut kelompok Mu'tazilah mereka tidak mungkin menampakkan hal-hal luar biasa.
Kejadian Luar Biasa Kedua, kejadian-kejadian luar biasa yang ditunjukkan seseorang tanpa mengaku sesuatu, baik oleh orang saleh yang diridhai Allah maupun orang yang keji dan suka berbuat dosa. Kejadian luar biasa yang ditunjukkan oleh orang-orang yang saleh disebut karamah wali, dan mazhab kami sepakat dengan kemungkinan terjadinya hal ini, sedangkan kaum Mu'tazilah mengingkarinya, kecuali Abu Husain al-Bashri dan Mahmud al-Khawarizmi.
Kejadian Luar Biasa Ketiga, kejadian-kejadian luar biasa yang ditunjukkan oleh sebagian orang yang menolak taat kepada Allah yang disebut dengan istidraj.

Dalil Dalil Tentang Adanya Karamah Wali

Ketetapan adanya karamah para wali dinyatakan oleh dalil-dalil dari Al-Qur'an, khabar, atsar, dan dalil aqli (rasio).
1. Dalil Al-Qur'an
Ada banyak ayat yang dijadikan pegangan mengenai hal ini:

Dalil 1
Kisah Maryam dalam QS Ali 'Imran [3]: 37 di atas, sebagaimana telah dijelaskan di muka maka tidak akan kami ulangi lagi di sini.
Dalil 2
Kisah ashabul kahfi yang tertidur selama 309 tahun, namun tetap selamat dari malapetaka. Allah melindungi mereka dari panas matahari, seperti termaktub dalam firman Allah, Dan kamu mengira mereka itu terjaga, padahal sebenarnya mereka tidur (QS Al-Kahfi [18]: 18). Dan kamu akan melihat matahari ketika terbit, condong ke arah kanan gua (QS Al-Kahfi [18]: 17).
Sebagian orang menetapkan adanya karamah wali berdasarkan firman Allah, Berkatalah seorang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab, "Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip." Padahal orang yang memiliki ilmu dari Al-Kitab dalam ayat tersebut adalah Nabi Sulaiman a.s., maka tidak benar mengambil dalil dengan ayat ini.
Al-Qadhi menanggapi masalah ini, "Di antara ashabul kahfi atau pada zaman mereka pasti ada seorang nabi, karena tidur mereka yang begitu lama bertentangan dengan kebiasaan manusia, sebagaimana seluruh mukjizat yang ada." Menurut saya, tidurnya ashabul kahfi yang begitu lama mustahil merupakan mukjizat salah seorang nabi, karena tidur bukanlah kejadian yang luar biasa untuk disebut sebagai mukjizat. Banyak orang tidak mempercayai kejadian ini, karena mereka tidak mengetahui bahwa ashabul kahfi adalah orang yang jujur dalam pengakuannya kecuali bahwa mereka tinggal di dalam gua selama itu. Orang-orang mengetahui bahwa mereka yang datang pada masa itu telah tertidur selama 309 tahun. Keseluruhan syarat ini tidak terpenuhi, jadi tidak mungkin mengklasifikasikan kejadian tersebut dalam kategori mukjizat salah satu nabi, cukuplah dianggap sebagai karamah dan ihsan para wali.
2. Khabar Nabi Saw.
Khabar 1
Dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim, diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Saw. bersabda,
"Hanya ada tiga bayi yang bisa bicara, yaitu Isa a.s., bayi pada masa Juraij (seorang ahli ibadah), dan seorang bayi lainnya." Kisah Nabi Isa a.s. telah diketahui secara luas. Sementara Juraij adalah seorang ahli ibadah di kalangan Bani Israil yang memiliki seorang ibu. Pada suatu hari ketika Juraij sedang shalat, sang ibu mengetuk pintu dan memanggilnya, "Juraij!" Juraij kebingungan, "Tuhan, manakah yang lebih baik, melanjutkan shalat atau menjawab panggilan ibu?" Juraij memutuskan untuk tetap melanjutkan shalatnya. Sang ibu lalu memanggil untuk kedua kalinya, tetapi Juraij tetap melanjutkan shalatnya. Sampai panggilan ketiga, Juraij tetap kukuh melanjutkan shalatnya dan tidak menghiraukan panggilan ibunya.
Sang ibu marah, lalu berdoa, "Ya Allah, jangan biarkan dia mati, sampai ia bertemu seorang pelacur." Di tempat Juraij tinggal, ada seorang pelacur yang berkata pada beberapa orang, "Aku akan menggoda Juraij, sampai ia mau berzina denganku." Pelacur itu mendatangi Juraij tetapi ia tidak mampu berbuat apa-apa. Suatu malam, seorang penggembala beristirahat di gubugnya. Ketika lelah, pelacur itu merayu penggembala, dan terjadilah perzinaan antara keduanya. Pelacur itu kemudian melahirkan seorang bayi dan mengaku, "Ini anak Juraij." Bani Israil lalu mendatangi Juraij, menghancurkan rumahnya dan mencaci-makinya. Kemudian Juraij shalat dan memanjatkan doa, hingga bergeraklah bayi itu.
Abu Hurairah berkata, "Sepertinya aku melihat Nabi Saw. bercerita dengan mengacungkan tangan ketika beliau berkata, "Hai bocah, siapa ayahmu?" Bayi itu menjawab, "Penggembala itu." Akhirnya Bani Israil menyesali perbuatan mereka terhadap Juraij dan mengucapkan janji, "Kami akan membangun rumahmu dari emas atau perak." Akan tetapi Juraij menolak tawaran mereka dan membangun rumahnya seperti semula.
Bayi lain yang bisa bicara adalah seorang bayi yang sedang menyusu kepada ibunya. Lalu lewatlah seorang pemuda tampan berparas elok. Sang ibu berdoa, "Ya Allah, jadikan anakku seperti dia." Kemudian bayi itu menyahut, "Ya Allah, jangan jadikan aku seperti dia." Lewat lagi seorang perempuan yang diisukan sebagai pencuri, pezina, dan residivis. Sang ibu berdoa, "Ya Allah, jangan jadikan anakku seperti dia." Bayi itu menimpali, "Ya Allah, jadikan aku seperti dia." Sang ibu bertanya-tanya tentang celoteh anaknya. Si bayi berkata, "Pemuda itu orang yang suka bertindak sewenang-wenang, aku tidak ingin jadi seperti dia. Sementara perempuan yang diisukan sebagai pelacur itu bukanlah seorang pelacur, ia diisukan sebagai seorang pencuri, padahal ia bukan pencuri, dan ia hanya berkata, "Cukuplah Allah sebagai pelindungku."
Khabar 2
Khabar tentang sebuah gua yang terkenal dalam kitab-kitab sahih. Al-Zuhri meriwayatkan dari Salim dari Ibnu 'Umar bahwa Rasulullah Saw. bercerita, "Dulu, ada tiga orang sedang menempuh suatu perjalanan, kemudian mereka berlindung dan bermalam di dalam gua. Lalu sebuah batu besar menggelinding dari atas gunung dan menutupi pintu gua. Mereka berkata, 'Demi Allah, kami tidak akan selamat dalam gua ini, kecuali kami memohon kepada Allah dengan perbuatan baik yang telah kami lakukan'
Salah seorang di antara mereka berkata, 'Aku memiliki dua orang tua yang lanjut usia, sebelumnya aku tidak pernah membuatkan mereka minuman. Suatu hari, mereka tertidur di bawah sebatang pohon, aku tidak memindahkan mereka. Aku memerah susu sebagai minuman sore hari untuk keduanya, aku membawakannya untuk mereka, tetapi mereka tetap tidur. Aku tidak berniat membangunkan mereka juga tidak mendahului meminumnya. Sambil berdiri dengan menenteng gelas di tangan, aku tunggui mereka hingga terjaga sampai fajar merekah. Selanjutnya mereka bangun, dan meminumnya.Ya Allah, apabila aku lakukan semua" itu karena mencari ridha-Mu, maka keluarkan kami dari hadangan batu besar ini/' Kemudian batu itu bergeser sedikit sehingga terbuka celah kecil, namun mereka belum bisa keluar dari gua.
Orang kedua berkata, 'Aku memiliki sepupu perempuan yang sangat mencintaiku. Kemudian ia merayuku, tetapi aku menolak, hingga aku menyakiti dirinya selama beberapa tahun. Akhirnya ia menemuiku dan aku berikan harta yang banyak agar dia mau meninggalkanku. Waktu itu ia berkata, 'Tidak mungkin kamu bisa melepaskan cincin ini, kecuali dengan cara yang benar.' Lalu aku meninggalkannya bersama hartanya. Ya Allah, apabila aku lakukan hal itu karena mencari ridha-Mu, maka bebaskan kami dari pintu gua ini.' Bergeserlah batu besar itu, tetapi mereka belum juga bisa keluar dari sana.
Orang ketiga berkata, 'Ya Allah, aku telah mempekerjakan orang. Aku beri mereka upah, dan hanya ada satu orang yang belum kuberi karena ia meninggalkan pekerjaannya, kemudian pergi. Aku membungakan upahnya hingga menjadi kekayaan yang berlipat-lipat. Pada suatu saat, ia mendatangiku dan berkata, 'Hai 'Abdullah, saya mau minta upah.' Aku menjawab, 'Seperti apa yang kamu lihat, semua upahmu berupa unta, kambing, dan budak.' Dia berkata, 'Hai'Abdullah, engkau mengolok-olok saya?' Aku menjawab, 'Aku tidak mengolok-olokmu, ambillah semua upahmu dan gunakan untuk makan/ Ya Allah, apabila hamba melakukan semua itu karena mencari ridha-Mu, maka lepaskan kami dari padang pasir ini.' Akhirnya terbukalah batu itu dari gua. Mereka keluar dan berjalan bersama-sama." (HR Bukhari dan Muslim dengan kualitas hasan sahih)
Khabar 3
Sabda Rasulullah Saw., "Ya Allah, aku sudah membuat kusut dan mengotori kain lusuh dengan debu. Jika aku bersumpah dengan nama Allah, niscaya kain itu akan rapih dan bersih kembali." Tidak ada sesuatu pun yang dapat menyangkal sumpah Nabi Muhammad Saw. atas nama Allah.
Khabar 4
Sa'id bin Musayyab meriwayatkan dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Saw., "Suatu hari, ada seorang laki-laki yang sedang menggiring seekor sapi dengan beban berat. Sapi itu menoleh ke arah laki-laki itu dan berkata, 'Aku diciptakan bukan untuk ini, tetapi untuk membajak.' Beberapa orang berseru, 'Maha suci Allah, seekor sapi bisa bicara.' Aku, Abu Bakar, dan 'Umar mempercayai kejadian itu."
Khabar 5
Abu Hurairah r.a. meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, "Suatu hari seseorang mendengar petir, tanda musim hujan, yang akan mengairi kebun Fulan. Aku bergegas menuju kebun itu, pada waktu itu, ada seorang laki-laki berdiri di sana, dan aku bertanya, 'Siapa namamu?' Dia menjawab, 'Fulan bin Fulan bin Fulan.' Aku bertanya lagi, 'Apa yang kau kerjakan di kebun ketika panen tiba?' Dia balik bertanya, 'Kenapa kau tanyakan hal itu?' Jawabku, 'Karena aku mendengar suara petir yang akan mengairi kebun Fulan.' Dia berkata, 'Jika benar apa yang kau katakan, maka aku akan membaginya menjadi tiga, sepertiga untukku dan keluargaku, sepertiga untuk orang-orang miskin dan musafir, dan sepertiga lagi akan aku nafkahkan.'"
3. Atsar Sahabat
Kita mulai dengan mengutip beberapa karamah yang muncul dari Khulafa'ur Rasyidin dan para sahabat Nabi Saw. lainnya. Di sini saya mengutip sebagian karamah Khulafa'ur Rasyidin dari Al-
Razi, dan mengutip karamah para sahabat Nabi lainnya dari periwayat lain. Al-Razi berkata, "Beberapa kitab sufi membahas hal ini berupa riwayat-riwayat yang tak terhitung jumlahnya. Siapa yang ingin mempelajarinya, silakan mengkajinya."
4. Dalil Aqli (rasio)
Di antara dalil aqli dan qat'i yang berkaitan dengan kemungkinan munculnya karamah adalah:
Dalil 1
Sesungguhnya hamba Allah adalah wali-Nya, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya,
  • "Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak merasa takut dan sedih" (QS Yunus [10]: 62).
Allah juga wali hamba-Nya, seperti dinyatakan dalam firman-Nya,
  • "Allah itu pelindung (wali) orang-orang beriman" (QS Al-Baqarah [2]: 257).
  • "Dia terus-menerus melindungi orang-orang yang saleh" (QS al-A'raf [7]: 196).
  • "Sesungguhnya penolong kalian (waliyyukum) adalah Allah dan Rasul-Nya" (QS Al-Maidah [5]: 55).
  • "Engkaulah Penolong kami (maulana)" (QS Al-Baqarah [2]: 286).
  • "Demikianlah, sesungguhnya Allah menjadi pelindung (maula) orang-orang beriman" (QS Muhammad [47]: 11).
Jadi, jelaslah bahwa Allah adalah wali hambaNya dan hamba adalah wali Allah. Begitu juga Allah adalah kekasih hamba, sebaliknya hamba adalah kekasih Allah, sebagaimana dinyatakan dalam firman-Nya,
  • "Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya" (QS Al-Maidah [5]: 54).
  • "Orang-orang yang beriman sangat mencintai Allah" (QS Al-Baqarah [2]: 165).
  • "Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertobat dan orang-orang yang menyucikan diri "(QS al-Baqarah [2]: 222).
Jadi, bisa dikatakan bahwa jika seorang hamba telah mencapai ketaatan, maka ia akan terdorong untuk melaksanakan segala yang diperintahkan Allah dan semua hal yang diridhai-Nya, dan akan meninggalkan semua perbuatan yang dilarang dan dicegah olehNya. Bagaimana mungkin ia tidak melaksanakan perbuatan yang dikehendaki Tuhan Yang Maha Penyayang lagi Maha Mulia sekali saja, padahal hanya Tuhanlah yang utama baginya, karena hamba sesungguhnya tidak berdaya dan lemah ketika mengerjakan semua hal yang dikehendaki dan dititahkan Allah, sedangkan Tuhan Yang Maha Penyayang melakukan hal-hal utama yang dikehendaki hamba-Nya dalam sekali hitungan saja. Hal ini berdasarkan pada firman Allah,
  • "Penuhilah janjimu kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepadamu." (QS Al-Baqarah [2]: 40)
Dalil 2
Jika ketidakmunculan karamah membuat manusia menuduh Allah tidak ahli melakukan perbuatan seperti itu, maka itu termasuk mencela kekuasaan Allah dan dihukumi kufur. Atau jika ketidakmunculan karamah membuat manusia menuduh seorang mukmin tidak patut dikaruniai karamah oleh Allah, alasan ini tidak sah, karena mengetahui zat, sifat, perbuatan, hukum-hukum dan nama-nama Allah, cinta dan ketaatan kepada-Nya, serta terus-menerus menyucikan, mengagungkan, dan menyambut gembira nama-Nya dan membacakan tahlil untuk-Nya itu jauh lebih mulia daripada hanya memberikan sepotong kue untuk menundukkan ular atau harimau. Ketika Allah menganugerahi seorang mukmin ma'rifat, mahabbah, zikir, dan syukur tanpa permohonan, hal itu lebih utama daripada hanya memberi sepotong kue sebagai hidangan.
Dalil 3
Nabi Muhammad Saw. bersabda bahwa Allah berfirman,
"Tidak ada yang lebih mendekatkan seorang hamba kepada-Ku yang sebanding dengan menunaikan semua kewajiban yang Kuperintahkan dan senantiasa mendekati-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Dan jika Aku telah mencintainya, maka aku menjadi pendengaran, penglihatan, lidah, hati, tangan, dan kakinya. Ia mendengar melalui Aku, ia melihat melalui Aku, ia berbicara melalui Aku, dan berjalan melalui Aku.'
Khabar ini menunjukkan tidak adanya ruang dalam pendengaran mereka untuk selain Allah, tidak juga dalam penglihatan dan keseluruhan anggota tubuhnya. Sebab kalau masih ada ruang untuk selain Allah, tentunya Allah tidak akan berkata, "Aku mendengar dan melihat-Nya." Maka tidak ada keraguan lagi bahwa inilah maqam yang lebih mulia daripada kemampuan menundukkan ular dan binatang buas, atau memberi sepotong roti, setangkai anggur dan segelas air kepada seseorang yang kelaparan dan kehausan di padang tandus. Ketika Allah dengan rahmat-Nya mengantarkan hamba-Nya sampai derajat yang tinggi, maka apa susahnya memberi sepotong roti atau air minum di padang tandus kepada seseorang?
Dalil 4
Nabi Muhammad Saw. menceritakan bahwa Allah berfirman, "Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka ia benar-benar menyatakan peperangan dengan-Ku." Menyakiti wali sama dengan menyakiti Allah, hal ini sesuai dengan firman-Nya:
  • "Orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah" (QS Al-Fath [48]: 10).
  • "Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak pula bagi perempuan yang mukmin (untuk memilih ketetapan lain), apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan" (QS Al-Ahzab [33]: 36).
  • "Sesungguhnya orang-orang yang menyakiti Allah dan Rasul-Nya akan dilaknat oleh Allah di dunia dan akhirat" (QS Al-Ahzab [33]: 57).
Berjanji setia (bai'at) kepada Nabi Muhammad Saw. berarti berjanji setia kepada Allah, ridha kepada Nabi Muhammad Saw. berarti ridha kepada Allah, menyakiti Nabi Muhammad Saw. berarti menyakiti Allah. Tidak diragukan lagi, derajat Muhammad adalah derajat tertinggi. Inilah arti dari firman Allah dalam sebuah hadis qudsi, "Barangsiapa menyakiti wali-Ku, maka ia telah menyatakan peperangan dengan-Ku." Hadis qudsi ini menunjukkan ketetapan Allah bahwa menyakiti wali sama dengan menyakiti-Nya.
Hal ini diperkuat dengan khabar masyhur yang menyatakan bahwa pada hari kiamat nanti Allah Swt. berfirman,
"Aku sakit, tetapi kau tidak menjengukku. Aku meminta minum tetapi kau tidak memberiku mimun. Aku meminta makan kepadamu tapi kau tidak memberiku makan." Orang-orang bertanya, "Ya Tuhan, bagaimana kami melakukan hal ini, sementara Engkau adalah Tuhan Penguasa alam?" Allah menjawab, "Sesungguhnya hamba-Ku si Fulan sedang sakit, tetapi kamu tidak menjenguknya. Apakah kamu tidak tahu kalau saja kamu menjenguknya, maka kamu akan menemukan Aku di sisinya."
Demikian juga ketika kita memberi minum dam makan wali-Nya berarti kita juga memberi minum dan makan Allah. Seluruh khabar di atas membuktikan bahwa para wali Allah telah mencapai derajat ini.
Dalil 5
Kita melihat bahwa dalam kebiasaan, seseorang yang diangkat sebagai pelayan khusus oleh seorang raja dan diizinkan masuk ke ruang untuk bersenang-senang, maka ia juga diberi kekhususan untuk melakukan apa yang tidak bisa dilakukan orang lain. Bahkan akal sehat juga menyaksikan bahwa kedekatan dengan seorang raja akan menimbulkan naiknya pangkat (kedudukan). Kedekatan adalah asal atau pokok, sementara kedudukan adalah pengiring. Sedangkan Raja Paling Agung adalah Tuhan Penguasa alam. Jika Allah memuliakan seorang hamba dengan mengantarkannya ke pintu pengabdian dan derajat karamah, menganugerahinya rahasia ma'rifat dan kemampuan menyingkap hijab antara Allah dan dirinya, serta mendudukkannya dalam kedekatan, maka tidak ada kesulitan baginya untuk menampakkan sebagian karamah di dunia ini.
Dalil 6
Tidak diragukan lagi bahwa yang menguasai perbuatan adalah ruh, bukan badan. Begitu juga penguasaan Allah atas ruh sama dengan penguasaan ruh atas badan, berdasarkan penafsiran kami atas firman Allah, "Dia menurunkan malaikat dengan (membawa) ruh (wahyu) berupa perintah-Nya" (QS Al-Nahl [16]: 2). Rasulullah Saw. bersabda, "Aku bermalam di sisi Tuhanku yang memberiku makan dan minum." Dari hadis ini, kita tahu bahwa semakin banyak pengetahuan seseorang tentang alam gaib, maka semakin kuat hatinya dan semakin sedikit kelemahannya. Karena itu, 'Ali bin Abi Thalib berkata, "Demi Allah, gerbang Khaibar itu tidak aku dobrak dengan kekuatan jasadiah, tetapi gerbang itu terlepas dengan kekuatan rabbaniyyah." Hal tersebut karena pada waktu perang Khaibar, 'Ali memutus pandangannya dengan alam jasad, dan malaikat memancarkan cahaya alam keagungan, sehingga ruh 'Ali menjadi kuat dan menyerupai subtansi ruh malaikat serta memancarkan kilauan cahaya alam kesucian dan keagungan. Maka 'Ali memiliki kemampuan seperti malaikat yang tidak dimiliki oleh orang lain. Demikian pula hamba lain yang terus-menerus taat, ia akan tiba pada maqam yang difirmankan Allah dalam sebuah hadis qudsi, "Aku menjadi pendengaran dan penglihatannya." Ketika cahaya keagungan Allah menjadi pendengarannya, maka ia mampu mendengar suara yang dekat maupun yang jauh. Ketika cahaya Allah menjadi tangannya, maka ia memiliki kemampuan untuk menyelesaikan persoalan yang sulit maupun mudah, jauh maupun dekat.
Dalil 7
Menurut hukum akal, subtansi ruh bukanlah raga yang fana, rusak, dapat dipisah-pisah, dan dipotong-potong. Namun ruh adalah substansi malaikat, penghuni langit, sesuatu yang kudus dan suci. Hanya saja ketika ruh terikat dengan tubuh dan terbelenggu dengan kehendaknya, maka ia akan melupakan negeri asal dan tempat tinggalnya yang lama, dan secara keseluruhan ia serupa dengan tubuh yang rusak, kekuatannya melemah, kekokohannya lenyap hingga ia tidak kuasa melakukan apa-apa. Ketika ruh senang dengan ma'rifat dan mahabbah kepada Allah, serta jarang mengikuti kehendak tubuh, maka ruh-ruh penghuni langit dan 'arsy akan memancarkan kilauan cahaya mereka atasnya dan menyelubunginya, kemudian ia akan diberi kekuatan hingga mampu menguasai alam materi, seperti ruh-ruh penghuni langit, dan inilah yang disebut karamah.
Menurut mazhab kami, ruh manusia berbeda dengan benda-benda cair. Ruh manusia mengandung kekuatan dan kelemahan, cahaya dan kegelapan, kehormatan dan kehinaan, demikian juga ruh-ruh falakiyah (wilayah langit). Tidakkah kau lihat Jibril, ketika Allah menyifatinya dalam Al-Qur'an, "Sesungguhnya Al-Qur'an itu benar-benar firman Allah yang dibawa oleh utusan yang mulia (Jibril), yang mempunyai kekuatan dan kedudukan tinggi di sisi Allah Pemilik 'Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya" (QS Al-Takwir [81]: 19-21). Allah berfirman tentang sekelompok malaikat lainnya, dan berapa banyak malaikat di langit yang syafa'atnya tidak berguna kecuali setelah Allah memberikan izin kepada yang dikehendaki dan diridhai-Nya.
Demikianlah, ketika jiwa berpadu dengan kekuatan yang suci dan mendasar, cahaya substansi, keluhuran tabiat, ditambah dengan berbagai macam riyadhah (olah spiritual) yang membersihkan debu dunia wujud dan kerusakan dari wajahnya, maka jiwanya akan bercahaya, berkilauan, dan mampu menguasai alam nyata dan fana dengan bantuan cahaya ma'rifat yang mulia dan kekuatan cahaya Sang Maha Perkasa lagi Maha Mulia. Penjelasan yang mulia ini mengandung rahasia-rahasia terselubung dan fenomena-fenomena yang mendalam, karenanya kita memohon pertolongan Allah agar dapat memahaminya. Barangsiapa tidak bisa mencapainya, berarti ia tidak meyakininya.
Para penyangkal adanya karamah memiliki beberapa argumen:
  1. Para penyangkal karamah berlaku tidak adil dan menyesatkan karena berpendapat bahwa munculnya peristiwa luar biasa merupakan bukti kenabian, kalau muncul di tangan selain nabi, maka bukti ini menjadi batal. Adanya bukti tetapi tidak ada yang dibuktikan akan menodai eksistensi bukti tersebut dengan demikian bukti tersebut menjadi batal.
  2. Mereka berpegang pada sabda Rasulullah dalam sebuah hadis qudsi yang menceritakan tentang Allah, "Orang-orang yang mendekat kepada-Ku itu tidak akan pernah dekat kepada-Ku, hingga mereka menunaikan hal-hal yang Ku-wajibkan atas mereka." Mereka mengatakan hadis ini adalah bukti bahwa mendekat kepada Allah dengan cara menjalankan semua perintah-perintah-Nya yang wajib lebih agung daripada mendekat kepada-Nya dengan menjalankan perbuatan sunnah. Jika orang yang mendekat kepada-Nya karena menjalankan perbuatan wajib saja tidak memperoleh karamah apa pun, maka apalagi orang yang mendekat kepada Allah dengan menjalankan perbuatan sunnah tidak patut memperoleh karamah.
  3. Mereka berpegang pada firman Allah, "Dan dia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang tidak sanggup kamu capai kecuali dengan kesukaran-kesukaran yang memayahkan diri"(QS Al-Nahl [16]: 7). Pendapat mereka yang menyatakan bahwa wali itu pindah dari satu negeri ke negeri yang jauh tidak sesuai bahkan bertentangan dengan ayat ini. Demikian juga. Nabi Muhammad Saw. tidak akan bisa berjalan dari Mekah ke Madinah kecuali dalam tempo yang lama dengan disertai kepayahan-kepayahan. Bagaimana mungkin dapat dipahami bahwa seorang wali meninggalkan negerinya untuk beribadah haji dalam waktu satu hari saja?
  4. Mereka bertanya apakah wali yang memperlihatkan karamah karena mengharapkan uang dari manusia bisa dituntut untuk menunjukkan bukti kewaliannya atau tidak? Kalau kita menuntutnya untuk menunjukkan bukti, maka itu sia-sia belaka, karena tampaknya karamah menunjukkan bahwa ia tidak berdusta. Sudah ada dalil meyakinkan mengapa harus mencari dalil perkiraan, tetapi kalau kita tidak menuntutnya untuk menunjukkan bukti, berarti kita telah mengabaikan Sabda Nabi SAW. yang berbunyi, "Bukti itu ada pada orang yang menyatakannya." Ini menunjukkan bahwa pendapat yang mengatakan adanya karamah itu batil.
  5. Apabila karamah bisa muncul pada sebagian wali, maka ia juga bisa terjadi pada orang lain. Jika karamah sudah begitu banyak sampai menjadi hal yang tak luar biasa lagi, maka akan sama dengan adat. Apabila kemunculan karamah begitu sering, maka karamah itu menjadi biasa saja, dan hal inilah yang akan menodai mukjizat dan karamah.
Jawaban atas argumen yang pertama:
Umat muslim berbeda pendapat tentang apakah seorang wali boleh menyatakan kewaliannya?

Kelompok Al-Muhaqqiqun (orang-orang yang menyatakan kebenaran) tidak membolehkannya. Berdasarkan pendapat ini, kita bisa membedakan antara mukjizat dan karamah. Mukjizat muncul setelah pengakuan kenabian, sementara karamah tidak muncul setelah pengakuan kewalian. Karena perbedaan inilah, para nabi diutus kepada makhluk untuk menyeru dari kekufuran kepada keimanan, dari maksiat kepada ketaatan. Kalau pengakuan kenabian tidak dinyatakan, maka kaum mereka tidak akan beriman, dengan kata lain tetap kufur. Jika para nabi menyatakan kenabian dan menampakkan mukjizat mereka, maka kaum yang diserunya akan mempercayai mereka. Langkah-langkah Nabi Muhammad Saw. menyatakan kenabiannya bukan bertujuan untuk mengagungkan diri, tetapi untuk menunjukkan kasih sayangnya kepada makhluk, agar mereka hijrah (beralih) dari kufur menuju iman. Adapun pernyataan kewalian seseorang tidak menyebabkan orang yang tidak mengakui kewalian-nya menjadi kafir atau menyebabkan orang yang mengakui kewalian-nya menjadi beriman. Jadi, pengakuan kewalian dinyatakan karena nafsu, oleh karenanya Nabi wajib menyatakan secara jelas pengakuan kenabiannya, sedangkan wali tidak diperkenankan menyatakan pengakuan kewaliannya, sehingga tampaklah perbedaan antara keduanya.
Sementara orang yang berpendapat bahwa seorang wali boleh menyatakan pengakuan kewaliannya, menyebutkan perbedaan mukjizat dan karamah ditinjau dari beberapa segi:
1) Kemampuan melakukan hal-hal luar biasa menunjukkan pelakunya bebas dari maksiat. Adapun peristiwa luar biasa yang diiringi dengan pengakuan kenabian menunjukkan pengakuan kenabiannya itu benar, sedangkan peristiwa luar biasa yang diiringi dengan pengakuan kewalian menunjukkan pengakuan kewaliannya itu benar. Dengan demikian, jelas bahwa mengakui adanya karamah para wali tidak berarti menyangkal mukjizat para nabi.
2) Nabi Saw. menunjukkan mukjizatnya dan meyakinkan dirinya, sedangkan wali ketika menunjukkan karamahnya tidak untuk meyakinkan dirinya. Karena mukjizat wajib ditampakkan, sementara karamah tidak.
3) Melawan orang-orang yang menyangkal mukjizat itu wajib, sedangkan para penyangkal karamah tidak wajib dilawan.
4) Seorang wali tidak boleh memperlihatkan karamahnya ketika ia menyatakan pengakuan kewaliannya, kecuali jika untuk memper kuat dakwah agama Nabi Saw. Bila hal ini terjadi, maka karamah itu menjadi mukjizat bagi Nabi dan mengukuhkan risalahnya. Dengan demikian, tindakan memperlihatkan karamah tidak berarti menyangkal kenabian seorang nabi, tetapi justru menjadi penguat kenabiannya.
Jawaban atas argumen yang kedua: Taqarrub (mendekatkan diri kepada Allah) dengan melakukan amalan-amalan wajib tentu lebih sempurna daripada taqarrub dengan amalan-amalan sunnah. Seorang wali hanya akan menjadi wali ketika ia menunaikan ibadah fardhu dan sunnah. Tidak diragukan lagi, kondisi ini lebih baik daripada orang yang membatasi diri pada hal-hal yang fardhu semata. Jadi, jelaslah perbedaannya.
Jawaban atas argumen yang ketiga: Firman Allah dalam QS Al-Nahl [16]: 7 yang berbunyi, "Dan ia memikul beban-bebanmu ke suatu negeri yang tidak sanggup kamu capai kecuali dengan kesukaran kesukaran yang memayahkan diri", mencakup kebiasaan-kebiasaan umum. Sedangkan karamah para wali adalah fenomena yang langka, pengecualian dari kebiasaan-kebiasaan umum.
Jawaban atas argumen yang keempat: Berpegang pada Sabda Nabi Saw. yang menyatakan, "Bukti itu ada pada orang yang mengaku."
Jawaban atas argumen yang kelima: Orang-orang yang taat itu sedikit jumlahnya, sebagaimana dinyatakan dalam firman Allah, "Dan sedikit sekali hamba-hamba-Ku yang bersyukur/taat"(QS Saba' [34]: 13). Dan seperti yang dikatakan iblis dalam firman-Nya, "Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur/taat" (QS Al-A'raf [7]: 17). Jadi, ketika orang yang memperlihatkan karamah sangat sedikit, maka itu berarti berbeda dengan kebiasaan.

                                                    Dipostkan Oleh: H.Lahamuddin Magga

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar